POGROM

Gubernur Jenderal Valckenier memerintahkan agar orang Tionghoa dibunuh.

 

Pada periode awal kolonialisasi Hindia Belanda, banyak orang keturunan Tionghoa dijadikan tukang dalam pembangunan kota Batavia di pesisir barat laut pulau jawa. Mereka juga bertugas sebagai pedagang, buruh di pabrik gula, serta pemilik toko. Perdagangan antara hindia belanda dan tiongkok yang berpusat di batavia, menguatkan ekonomi dan meningkatkan imigrasi orang tionghoa ke Jawa. Jumlah orang tionghoa di batavia meningkat pesat, sehingga pada tahun 1740 ada lebih dari 10.000 orang. Ribuan lagi tinggal di luar batas kota.

Pemerintah kolonial belanda mewajibkan mereka membawa surat identifikasi, dan yang tidak mempunyai surat tersebut dipulangkan ke tiongkok. Kebijakan deportasi ini diketatkan pada dasawarsa 1730-an, setelah pecahnya epidemik malaria yang membunuh ribuan orang, termasuk gubernur jenderal dirk van cloon.

Menurut sejarawan Indonesia Benny G. setiono, epidemik ini diikuti oleh meningkatnya rasa curiga dan dendam terhadap etnis tionghoa, yang jumlahnya semakin banyak dan kekayaan yang semakin menonjol. Akibatnya, komisaris urusan orang pribumi roy ferdinand, di bawah perintah Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, memutuskan pada tanggal 25 Juli 1740 bahwa warga keturunan tionghoa yang mencurigakan akan dideportasi ke Zeylan (sri lanka) dan dipaksa menjadi petani kayu manis. Warga keturunan tionghoa yang kaya diperas penguasa belanda, dengan mengancam mereka dengan deportasi.

Stamford Raffles, seorang penjelajah asal Inggris dan ahli sejarah pulau Jawa, mencatat bahwa orang Belanda diberi tahu Kapitan Cina ( pemimpin etnis Tionghoa yang ditentukan Belanda ) untuk Batavia, Ni Hoe Kong, agar mendeportasikan semua orang Tionghoa berpakaian hitam atau biru, sebab merekalah yang miskin.

Ada pula desas-desus bahwa orang yang dikirimkan ke Zeylan tidak pernah sampai ke sana, tetapi justru dibuang ke laut atau diberitakan mereka mati saat membuat kerusuhan di kapal. Ancaman deportasi ini membuat orang tionghoa resah, dan banyak buruh tionghoa meninggalkan pekerjaan mereka.

Sementara, penduduk pribumi di batavia, termasuk orang-orang betawi, menjadi semakin curiga terhadap orang tionghoa. Masalah ekonomi ikut berperan; sebagian besar penduduk pribumi miskin, dan beranggapan bahwa orang tionghoa tinggal di daerah-daerah terkemuka dan sejahtera.

Sejarawan Belanda A.N. Paasman mencatat bahwa orang Tionghoa menjadi “bak orang yahudi untuk asia“,  Padahal keadaan sebenarnya lebih rumit. Banyak orang tionghoa miskin yang tinggal di sekitar batavia merupakan buruh di pabrik gula, yang merasa dimanfaatkan para pembesar belanda dan orang tionghoa sendiri.

Orang Tionghoa yang kaya memiliki pabrik dan menjadi semakin kaya dengan mengurus perdagangan, mereka mendapatkan penghasilan dari pembuatan dan distribusi arak,  sebuah minuman keras yang dibuat dari molase dan beras. Namun, penguasa Belanda yang menentukan harga gula, ini juga menyebabkan keresahan.

Pada saat penurunan harga gula di pasar dunia, yang disebabkan kenaikan jumlah ekspor ke Eropa, industri gula di Hindia Belanda merugi. Hingga tahun 1740, harga gula di pasar global sudah separuh dari harga pada tahun 1720. Karena gula menjadi salah satu ekspor utama Hindia Belanda, negara jajahan itu mengalami kesulitan finansial.

Pada awalnya, beberapa anggota Dewan Hindia (Raad van Indië) beranggapan bahwa orang Tionghoa tidak mungkin menyerang Batavia dan kebijakan yang lebih tegas mengatur orang Tionghoa ditentang oleh fraksi yang dipimpin mantan gubernur Zeylan Gustaaf Willem baron van Imhoff, yang kembali ke Batavia pada tahun 1738. Namun, orang keturunan Tionghoa tiba di luar batas kota Batavia dari berbagai kampung dan daerah.

Pada tanggal 26 September Valckenier memanggil semua anggota dewan untuk pertemuan darurat. Pada pertemuan tersebut, Valckenier memerintah agar kerusuhan yang dipicu orang Tionghoa dapat ditanggapi dengan kekuatan yang mematikan. Kebijakan  ini terus ditentang oleh fraksi van Imhoff ; Vermeulen (1938) berpendapat bahwa ketegangan antara kedua fraksi politik ini ikut berperan dalam pembantaian.

Pada tanggal 1 Oktober malam, Valckenier menerima laporan bahwa ribuan orang Tionghoa sudah berkumpul di luar gerbang kota Batavia, amukan mereka dipicu oleh pernyataannya pada pertemuan dewan lima hari sebelumnya. Valckenier dan anggota Dewan Hindia lain tidak percaya hal tersebut.

Namun, setelah orang Tionghoa membunuh seorang sersan keturunan Bali di luar batas kota, dewan memutuskan untuk melakukan tindakan serta menambah jumlah pasukan yang menjaga kota. Dua kelompok yang terdiri dari 50 orang Eropa dan beberapa kuli pribumi, dikirim ke pos penjagaan di sebelah selatan dan timur Batavia, dan rencana penyerangan pun dibuat.

POGROM.

Pogrom ( bahasa Rusia: погром; dari “громить” – menghancurkan ) adalah serangan penuh kekerasan besar-besaran yang terorganisasi atas sebuah kelompok tertentu, etnis, keagamaan atau lainnya, yang dibarengi oleh penghancuran terhadap lingkungannya. rumah, tempat usaha, pusat-pusat keagamaan, dll.

Istilah ini secara historis digunakan untuk mengacu kepada tindakan kekerasan besar-besaran, baik secara spontan maupun terencana, terhadap kelompok-kelompok yang umumnya adalah kelompok minoritas.

 

 

 

Chinezenmoord van Stolk

Pembunuhan tahanan Tionghoa saat pembantaian ( file : chinezenmoord van stolk )

 

Geger Pacinan juga dikenal sebagai Tragedi Angke. Chinezenmoord bahasa Belanda, yang berarti Pembunuhan orang Tionghoa.

Chinezenmoord adalah sebuah pogrom terhadap orang keturunan Tionghoa dikota pelabuhan Batavia, Hindia belanda ( Jakarta ). Kekerasan Kekerasan dalam batas kota berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, sedangkan berbagai pertempuran kecil terjadi hingga akhir November tahun yang sama.

Keresahan dalam masyarakat Tionghoa dipicu oleh represi pemerintah dan berkurangnya pendapatan akibat jatuhnya harga gula yang terjadi menjelang pembantaian ini. Untuk menanggapi keresahan tersebut, pada sebuah pertemuanDewan Hindia (Raad van Indië), badan pemimpin Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC),  Guberner-Jenderal Adriaan Valckenier menyatakan bahwa kerusuhan apapun dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan. Pernyataan Valckenier tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Oktober 1740 setelah ratusan orang keturunan Tionghoa, banyak di antaranya buruh di pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda.

Penguasa Belanda mengirim pasukan tambahan, yang mengambil semua senjata dari warga Tionghoa dan memberlakukan jam malam. Dua hari kemudian, setelah ditakutkan desas-desus tentang kekejaman etnis Tionghoa, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang Tionghoa di sepanjang Kali Besar. Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang Tionghoa dengan meriam.

Kekerasan ini dengan cepat menyebar di seluruh kota Batavia sehingga lebih banyak orang Tionghoa dibunuh. Meski Valckenier mengumumkan bahwa ada pengampunan untuk orang Tionghoa pada tanggal 11 Oktober, kelompok pasukan tetap terus memburu dan membunuh orang Tionghoa hingga tanggal 22 Oktober, saat Valckenier dengan tegas menyatakan bahwa pembunuhan harus dihentikan.

Di luar batas kota Batavia, pasukan Belanda terus bertempur dengan buruh pabrik gula yang berbuat rusuh. Setelah beberapa minggu penuh pertempuran kecil, pasukan Belanda menyerang markas Tionghoa di berbagai pabrik gula. Orang Tionghoa yang selamat mengungsi ke Bekasi.

Diperkirakan bahwa lebih dari 10.000  orang keturunan Tionghoa dibantai. Jumlah orang yang selamat tidak pasti, ada dugaan dari 600 sampai 3.000 yang selamat. Pada tahun berikutnya, terjadi berbagai pembantaian di seluruh pulau Jawa. Hal ini memicu suatu perang selama dua tahun, dengan tentara gabungan Tionghoa dan Jawa melawan pasukan Belanda.

Setelah itu, Valckenier dipanggil kembali ke Belanda dan dituntut atas keterlibatannya dalam pembantaian ini. Gustaaf Willem van Imhoff menggantikannya sebagai gubernur jenderal. Hingga zaman modern, pembantaian ini kerap ditemukan dalam sastra Belanda. Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta.

PEMBANTAIAN

Rumah orang Tionghoa dibakar dalam pembantaian ini. ( file : Tableau de la Partie de Batavia, ou s’est fait proprement le terrible Massacre des Chinois, le 9 Octob. 1740 )

Setelah berbagai kelompok buruh pabrik gula keturunan Tionghoa memberontak, dengan menggunakan senjata yang dibuat sendiri untuk menjarah dan membakar pabrik. Ratusan orang tionghoa yang diduga dipimpin Kapitan Cina Ni Hoe Kong, membunuh 50 pasukan belanda di meester cornelis ( jatinegara ) dan tanah abang pada tanggal 7 Oktober.

Untuk menanggapi serangan ini, pemimpin Belanda mengirim 1.800 pasukan tetap yang ditemani schutterij  (milisi) dan 11 batalyon wajib  militer untuk menghentikan pemberontakan.
Mereka melaksanakan jam malam dan membatalkan perayaan Tionghoa yang sudah dijadwalkan. Karena kekhawatiran orang Tionghoa akan berkomplot pada malam hari, yang tinggal di dalam batas kota dilarang menyalakan lilin dan disuruh menyerahkan semua barang, hingga pisau paling kecil sekalipun.

Pada hari berikutnya, pasukan Belanda berhasil menangkis suatu serangan dari hampir 10.000 orang Tionghoa, yang dipimpin oleh kelompok Tionghoa  dari Tangerang dan Bekasi. Di tembok kota, Raffles mencatat sebanyak 1.789 warga keturunan Tionghoa meninggal dalam serangan ini. Untuk menanggapi serangan ini, Valckenier kembali mengadakan pertemuan dewan hindia pada tanggal 9 Oktober.

Sementara, gosip mulai tersebar dalam kelompok etnis lain, termasuk budak dari Balidan Sulawesi serta pasukan Bugis dan Bali, bahwa orang Tionghoa berencana membunuh atau memerkosa orang pribumi, atau menjadikan mereka sebagai budak. Untuk mencegah hal tersebut, kelompok-kelompok ini mulai membakar rumah-rumah milik orang Tionghoa di sepanjang Kali Besar. Ini disusul oleh serangan Belanda terhadap tempat tinggal orang Tionghoa di Batavia. Politikus Belanda yang anti-kolonis W.R. van Hoëvell menulis bahwa “wanita hamil dan yang sedang menyusui, anak kecil dan para pria gaek jatuh dalam serangan. Tahanan dibantai seperti domba”.

Pasukan di bawah pimpinan Letnan Hermanus van Suchtelen dan Kapten Jan van Oosten, seorang serdadu Belanda yang selamat dari serangan di Tanah Abang, mengambil posisi di daerah pecinan, Suchtelen dan pasukannya menempatkan diri di pasar burung, sementara pasukan van Oosten mendapatkan pos dekat kanal. Sekitar pukul 5 sore, serdadu Belanda mulai menembakkan meriam ke arah rumah orang Tionghoa, sehingga rumah-rumah tersebut terbakar. Beberapa orang Tionghoa tewas di rumah mereka, sementara yang lainnya ditembak saat keluar dari rumah atau melakukan bunuh diri.

Yang berhasil mencapai kanal dibunuh oleh pasukan Belanda yang menunggu di perahu kecil, sementara pasukan Belanda lainnya mondar-mandir di antara rumah-rumah yang sedang terbakar, mencari dan membunuh orang Tionghoa yang masih hidup. Tindakan ini kemudian tersebar di seluruh kota Batavia. Menurut Vermeulen, sebagian besar pelaku merupakan pelaut dan unsur masyarakat lain yang “tidak tetap atau pun baik.” Dalam periode ini ada banyak penjarahan dan penyitaan properti.

Tahanan Tionghoa dibunuh oleh pasukan Belanda pada tanggal 10 Oktober 1740.

 

Pada hari berikutnya kekerasan ini terus menyebar dan pasien Tionghoa dalam sebuah rumah sakit dibawa ke luar dan dibunuh. Usaha untuk memadamkan kebakaran di daerah Kali Besar belum membawa hasil, kebakaran malam itu semakin ganas, dan baru padam pada tanggal 12 Oktober. Sementara, sebuah kelompok yang terdiri dari 800 pasukan Belanda dan 2.000 orang pribumi menyerbu Kampung Gading Melati, di mana terdapat orang Tionghoa yang bersembunyi di bawah pimpinan Khe Pandjang. Biarpun warga Tionghoa mengungsi ke daerah Paninggaran, mereka diusir lagi oleh pasukan Belanda. Terdapat sekitar 450 orang Belanda dan 800 orang Tionghoa yang menjadi korban dalam kedua serangan tersebut.

 

KEKERASAN LANJUTAN.

Pada tanggal 11 Oktober, Valckenier menyuruh para opsir Belanda untuk menghentikan penjarahan, tetapi tidak berhasil. Dua hari kemudian Dewan Hindia menentukan bahwa setiap orang yang membawa kepala orang Tionghoa akan dihargai dengan dua dukat. Hal ini digunakan untuk memancing suku lain agar mereka ikut membantai orang Tionghoa.

Akibatnya, orang Tionghoa yang selamat dari serangan pertama mulai diburu “bandit” yang menginginkan hadiah tersebut. Penguasa Belanda bekerja sama dengan kelompok pribumi di berbagai daerah di Batavia, grenadir Bugis dan Bali dikirim untuk memperkuat pasukan Belanda pada tanggal 14 Oktober.

Pada tanggal 22 Oktober, Valckenier memerintahkan agar semua pembunuhan dihentikan. Dalam sehelai surat panjang yang berisi bahwa kesalahan sepenuhnya berada di tangan orang Tionghoa saat kerusuhan di Batavia, dia mengajak orang Tionghoa untuk berdamai. Kecuali pemimpin pemberontakan, dia mengajukan penghargaan sebanyak 500  rijksdaalder  untuk setiap pemimpin yang dibunuh.

Di luar batas kota terus terjadi pertempuran kecil antara pemberontak Tionghoa dan pasukan Belanda. Pada tanggal 25 Oktober, setelah hampir dua minggu adanya pertempuran kecil, 500 orang Tionghoa bersenjata berangkat menuju Cadouwang (kini Angke), tetapi dihalau oleh kavaleri di bawah pimpinan Ridmeester Christoffel Moll serta Kornet Daniel Chits dan Pieter Donker. Pada hari berikutnya kavaleri itu, yang terdiri dari 1.594 pasukan Belanda dan pribumi, mendekati markas orang Tionghoa di Pabrik Gula Salapadjang.

Di sana mereka berkumpul di hutan, lalu membakar pabrik yang masih penuh dengan pemberontak Tionghoa. Satu pabrik lain di Boedjong Renje dimusnahkan oleh pasukan Belanda lain. Karena takut pada pasukan Belanda, orang-orang Tionghoa mengungsi ke pabrik gula lainnya di Kampung Melayu, yang berjarak empat jam dari Salapadjang, markas ini dimusnahkan oleh pasukan di bawah pimpinan Kapten Jan George Crummel. Setelah mengalahkan orang Tionghoa, pasukan Belanda kembali ke Batavia.

Sementara, orang Tionghoa, yang mulai dikurung 3.000 prajurit dari Kesultanan Banten, melarikan diri ke arah timur mengikuti pesisir utara pulau Jawa. Pada 30 Oktober dilaporkan bahwa orang Tionghoa tersebut sudah melewati Tangerang.

Perintah untuk gencatan senjata diterima Crummel pada tanggal 2 November.  Dia dan pasukannya kembali ke Batavia setelah  menempatkan  50 penjaga diCadouwang. Ketika Crummel tiba di Batavia, sudah tidak ada lagi pemberontak Tionghoa di luar tembok kota. Penjarahan berlangsung sampai tanggal 28 November dan pasukan pribumi terakhir dibebastugaskan pada akhir bulan itu.

 

Van Imhoff dan dua anggota Dewan Hindia lain ditangkap untuk pembangkangan setelah menantang Valckenier.
( file : Trapping of three councilmen of Dutch East Indies )

 

Sebagian besar sejarawan mencatat sebanyak 10.000 orang Tionghoa yang berada di dalam kota Batavia dibunuh, dan 500 lagi mengalami luka berat. Antara 600 dan 700 rumah milik orang Tionghoa dijarah dan dibakar.

Vermeulen mencatat 600 orang Tionghoa yang selamat. Sementara sejarawan Indonesia A.R.T. Kemasang mencatat 3.000 orang yang selamat. Sejarawan Tionghoa-Indonesia Benny G. Setiono mencatat bahwa sebanyak 500 tahanan dan pasien rumah sakit dibunuh, dengan jumlah orang yang selamat sebanyak 3.431.

Pembantaian ini disusul oleh periode yang rawan pembantaian lanjutan terhadap warga keturunan Tionghoa di seluruh pulau Jawa, termasuk satu pembantaian lagi di semarang pada tahun 1741 dan beberapa pembantaian lain di Surabaya dan Gresik.

Sebagai salah satu syarat untuk berakhirnya kekerasan, yakni semua penduduk Batavia keturunan Tionghoa dipindahkan ke suatu pecinan di luar batas kota Batavia, yang kini menjadi Glodok. Ini membuat orang Belanda lebih mudah mengawasi orang Tionghoa.

Untuk meninggalkan pecinan, orang Tionghoa membutuhkan tiket khusus. Namun, pada tahun 1743, sudah ada ratusan pedagang keturunan Tionghoa yang bertempat di dalam kota Batavia. Orang Tionghoa lain yang dipimpin oleh Khe Pandjang mengungsi ke Jawa Tengah. Mereka menyerang berbagai pos perdagangan Belanda dan bergabung dengan pasukan di bawah pimpinan Sultan Mataram, Pakubuwana II. Meskipun perang ini sudah selesai pada tahun 1743, selama 17 tahun terdapat konflik di Jawa secara terus-menerus.

Pada tanggal 6 Desember 1740 van Imhoff dan dua anggota Dewan Hindia lainnya ditangkap atas perintah Valckenier dengan tuduhan pembangkangan, dan pada tanggal 13 Januari 1741 mereka dikirimkan ke Belanda dengan kapal yang berbeda. Mereka tiba di Belanda pada tanggal 19 September 1741. Di Belanda, van Imhoff meyakinkan Heeren XVII, pemegang saham utama VOC, bahwa Valckenier yang memicu pembantaian di Batavia, serta menyampaikan pidato berjudul “Consideratiën over den tegenwoordigen staat van de Ned. O.I. Comp.”

Pertimbangan atas Keadaan Mutakhir di Hindia Belanda, pada tanggal 24 November. Sebagai akibat dari pidato itu, van Imhoff dan anggota dewan lain dibebaskan dari semua tuntutan. Pada tanggal 27 Oktober 1742, van Imhoff dikirimkan kembali ke Batavia menggunakan kapal Hersteller sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru. Ia tiba di Batavia pada tanggal 26 Mei 1743.

Van Imhoff dikirim kembali ke Belanda, tetapi kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru. ( file : Gustaaf Willem baron van Imhoff-2 )

 

Valckenier sudah diminta digantikan sebagai gubernur jenderal pada akhir tahun 1740. Dan pada bulan Februari 1741 menerima surat yang memerintahkan dia mengangkat van Imhoff sebagai penggantinya.

Versi lain ialah bahwa Heeren XVII menggantikan Valckenier sebagai hukuman atas terlalu banyak gula yang diekspor daripada kopi pada tahun 1739 yang sangat merugikan VOC. Saat Valckenier menerima surat tersebut, van Imhoff sudah dalam perjalanan ke Belanda.
Valckenier meninggalkan Hindia Belanda pada tanggal 6 November 1741, setelah memilih Johannes Thedens sebagai penggantinya sampai van Imhoff kembali.

Pada tanggal 25 Januari 1742 dia mendarat di Cape Town tetapi ditangkap dan diselidiki oleh Gubernur Hendrik Swellengrebel atas perintah Heeren XVII.

Valckenier dikirim kembali ke Batavia pada bulan Agustus 1742, Dia dipenjara di Benteng Batavia, dan tiga bulan kemudian, digugat atas beberapa tuntutan, termasuk keterlibatannya dalam Geger Pacinan.

Pada bulan Maret 1744, ia dinyatakan bersalah dan dituntut dengan hukuman mati dan harta bendanya disita.

Pada bulan Desember 1744, kasus tersebut dibuka kembali setelah Valckenier membuat pernyataan yang panjang untuk membela dirinya. Valckenier meminta lebih banyak bukti dari Belanda, tetapi meninggal dunia dalam kurungan pada tanggal 20 Juni 1751, sebelum penyelidikan diselesaikan.

Hukuman mati dibatalkan pada tahun 1755. Vermeulen berpendapat bahwa penyeledikan Valckenier tidak adil dan dipicu oleh amarah masyarakat di Belanda. Hal Ini mungkin diakui secara resmi, sebab pada tahun 1760, putra Valckenier, Adriaan Isaäk Valckenier, mendapatkan ganti rugi sebanyak 725.000 gulden.

Produksi gula di daerah Batavia turun secara drastis setelah pembantaian, sebab banyak orang Tionghoa yang dulu mengurus industri tersebut sudah terbunuh atau hilang. Industri tersebut mulai berkembang lagi setelah Gubernur Jenderal van Imhoff “mengkolonisasi” Tangerang.

Awalnya dia bermaksud agar orang yang berasal dari Belanda untuk bertani di sana, dia berpendapat bahwa orang Belanda yang sudah ada di Batavia adalah orang malas. Namun, dia tidak bisa menarik orang baru karena pajak di Hindia Belanda sangat tinggi, maka dia terpaksa menjual tanah kepada orang Belanda yang ada di Batavia.

Pemilik tanah baru ini tidak berkenan untuk mengerjakan tanah tersebut, maka mereka menyewakan tanah itu kepada orang Tionghoa. Produksi meningkat setelah itu, tetapi baru pada dekade 1760-an produksi ada pada tingkat yang sama dengan tahun 1740. Setelah itu, produksi mulai berkurang lagi. Jumlah pabrik gula juga berkurang. Pada tahun 1710 terdapat 131 buah, tetapi pada tahun 1750 jumlahnya hanya 66 buah.

Willem van Haren.

Vermeulen menyebut pembantaian ini sebagai “salah satu peristiwa dalam kolonialisme [Belanda] pada abad ke-18 yang paling menonjol”.

Dalam disertasinya, W. W. Dharmowijono menyatakan bahwa Pogrom ini mempunyai peran besar dalam sastra Belanda. Sastra ini muncul dengan cepat. Dharmowijono mencatat adanya sebuah puisi oleh Willem van Haren yang mengkritik pembantaian ini (dari tahun 1742) dan sebuah puisi anonim, dari periode yang sama, yang mengkritik orang Tionghoanya. Raffles menulis pada tahun 1830 bahwa catatan historis Belanda “jauh dari lengkap atau memuaskan”.

Sejarawan asal Belanda Leonard Blussémenulis bahwa Geger Pacinan secara tidak langsung membuat Kota Batavia berkembang pesat, tetapi membuat dikotomi antara etnis Tionghoa dan pribumi yang masih terasa hingga akhir abad ke-20. Pada abad yang sama, pembunuhan massal ini dicatat juga dalam Bahasa Banjar oleh Abdur Rahman di syairnya, Syair Hemop.

Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. Salah satu etimologi untuk nama Tanah Abang ( yang berarti “tanah merah” ) ialah bahwa daerah itu dinamakan untuk darah orang Tionghoa yang dibunuh di sana, van Hoëvell berpendapat bahwa nama itu diajukan agar orang Tionghoa yang selamat dari pogrom lebih cepat menerimaamnesti.

Nama Rawa Bangke mungkin diambil dari kata bangkai, karena jumlah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; etimologi serupa juga pernah diajukan untuk Angke di Tambora, Jakarta Barat.

 

DANPAK KERUSUHAN KE JAWA

Litografi berjudul “Tableau de la Partie de Batavia” terbit pada 1747 sanggup menggambarkan suasana pembantaian warga Cina di Batavia 9 Oktober 1740. Balai Kota, Kali Besar dan daerah sekitar Jalan Tiang Bendera yang terbakar.

“Setiap tempat bersimbah darah dan kanal-kanal dipenuhi dengan mayat-mayat. Sebagian besar kota diselimuti abu dan lima ribu warga Cina yang terkenal rajin dan penuh pengabdian itu telah tewas.” Demikian kisah memilukan dari sebuah catatan akhir abad ke-18 yang pernah tersimpan di perkumpulan komunitas Cina di Jakarta.

 

Stadhuis atau Balai Kota Batavia dibangun pada 1710, kini digunakan sebagai Museum Sejarah Jakarta. Halaman belakangnya telah menjadi ladang penyembelihan dalam tragedi pembantaian warga Cina di Batavia 9 Oktober 1740.

 

Beberapa ratus orang Cina yang menjadi tahanan di Stadhuis ( Balai Kota Batavia, kini Museum Sejarah Jakarta ) dibebaskan, lalu disembelih di halaman belakang gedung itu. Rumah Kapitan Cina Ni Hoe Kong yang terletak di Roa Malaka—nama jalan itu masih ada hingga kini—dijarah dan dihancurkan. Sang Kapitan yang bertanggung jawab terhadap segala aktivitas orang-orang cina itu ditangkap dan akhirnya wafat dalam pembuangannya di Ambon.

Seorang pelaku pembantaian dan perampokan, G.Bernhard Schwarzen, berkisah dalam bukunya Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751. Ironisnya, dia juga membunuh orang Cina yang dia kenal baik dan kerap mengundangnya makan malam.

Menurutnya, baru empat hari kemudian pembantaian berhenti. Tak tersisa lagi orang Cina di dalam tembok kota. “Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat, kanal penuh dengan mayat,” tulisnya. “Bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu”.

Menurut Mona Lohanda, pemerhati sejarah peranakan Cina dan penulis buku Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, kerusuhan 1740 meluas hingga ke Jawa. Bahwa tragedi orang-orang Cina bukan hanya berdampak kepada kehidupan di Batavia, tetapi juga berakibat pada ketidakstabilan politik di Kasultanan Mataram.

Bagaimana peristiwa itu meluas hingga ke Jawa ?

Dampak tragedi Oktober 1740, telah membuat Kasultanan Banten bersiaga dengan tiga ribu prajuritnya untuk menghadang orang-orang Cina yang melarikan diri dari Batavia.

Gagal memasuki Banten, para pelarian itu bergerak ke timur. Sejumlah seribu orang bertemu di pantai sisi utara Pati, kota kecil di Jawa Tengah. Akhirnya, sebagai tindakan balasan, mereka bergabung dengan komunitas Cina asal Semarang dan mengepung benteng VOC di kota itu. Tak hanya itu, mereka juga menyerang pertahanan VOC di Rembang, sebuah benteng pinggir pantai.

Tampaknya, inilah perlawanan terhebat dan terheroik orang-orang Cina kepada VOC dalam sejarah  peranakan Indonesia yang terlupakan.

Jikalau Raja Kartasura, Susuhunan Pakubuwana II, menyatukan antara kekuatan pemberontakan orang-orang Cina dan kekuatan prajurit keratonnya, mungkin saja VOC bisa hengkang dari Jawa Tengah.

Namun, sang raja tampaknya menyia-nyiakan momentum sehingga VOC berhasil menguasai keadaan dengan campur tangan dalam urusan kerajaan. Meskipun konspirasi Cina-Jawa dalam “geger pacinan” dapat dipatahkan VOC, perseteruan keluarga itu baru berakhir pada 1755 dengan terbaginya Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.  

Usai tragedi kebiadaban itu, tidak ada warga Cina yang kembali ke Batavia. Lalu, VOC memberikan izin tinggal bagi orang-orang Cina di sebelah selatan tembok kota, daerah ladang tebu dan berawa milik Arya Glitok, seorang adiwangsa asal Bali. Kelak, pecinan baru itu dikenal dengan sebutan mirip nama belakang bekas pemiliknya : Glodok.

Innalillahi wa Innailaihi Rodjiuun, mohon maaf. Paragraf demi paragraf membayangkannya saja saya sudah tidak kuat, kejadian diluar batas nalar kita sebagai manusia. Sesak nafas kita mengingatnya, namun hal tersebut dapat kita jadikan pelajaran kedepannya untuk kita selalu bergandengan tangan, hidup bersama selamanya.

Sebuah kota membutuhkan warga yang menghidupkan kegiatan perekonomian. Salah satu komunitas perintis yang bermukim di dalam tembok kota adalah masyarakat Tionghoa yang kelak menjadi cikal bakal budaya peranakan di kota itu.

Dan kini, sekarang, tiga hari kedepan akan ada perayaan Imlek tahunan, tanggal merah dan juga hari libur Nasional di Indonesia. Alhamdulillah teman teman Tionghoa masih diberi kekuatan dan kearifannya dalam kebersamaan kita di Indonesia Raya kita bersama.

Selamat memperingati perayaan tahun baru Imlek, bagi yang merayakan nya.
Merdeka !

NKRI HARGA MATI

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *