Regeeringsalmanak Voor Nederlandsch-indië

 

Kata siapa nama pluit berasal dari peluit atau roti seperti yang sering disebut-sebut orang yang katanya dari cerita orang orang tua dahulu ? Jangan-jangan orang orang yang kita tuakan sebagai rujukan, dulunya hanya kuli panggul atau buruh kasar yang (maaf) secara intelektualitas meragukan, dan masih mempercayai animisme.

Siapa bilang sih nama luar batang berasal dari peristiwa ajaib berupa legenda sayid husein bin abubakar yang saking sakti bisa keluar dari kurung batang saat digotong ke pemakaman ? Apa betul bidara cina itu berasal dari banjir darah pembantaian orang-orang cina yang terlibat pemberontakan cina 1740 ?

Benarkah Jatinegara itu kampung leluhur orang betawi ? Mengapa ada kampung dengan nama japad, tiang bendera. Lantas mengapa ada kampung ambon, kampung bugis, kampung bali, kampung jawa, kampung bandan? Pada abad 17 tahun 1700 sampai tahun 1800an, dimana masyarakat betawi pada saat itu ?

Asal usul nama-nama tempat di Jakarta, memberikan gambaran mengenai perkembangan sejarah Jakarta sebagai kota yang kaya oleh keragaman budaya dan jejak sejarah. Penelusurannyasecara kronologis mulai abad ke-15 sampai abad ke-20, tidak hanya memperlihatkan perubahan geografi dan demografi Jakarta, melainkan juga perubahan sosial, budaya, politik dan ekonomi. Deskripsi dan analisa sejarah semakin dikuatkan dengan sejumlah gambar dan peta kuno.

Atas usul Mayor Isaac St Martin dan van Hoorn, pada 21 Oktober 1688, maskapai dagang Hindia Timur Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membikin aturan untuk pribumi. Orang-orang diharuskan tinggal hanya dengan orang-orang satu suku dalam sebuah kampung. Orang Ambon harus tinggal di Kampung Ambon, orang Bali harus di Kampung Bali dan, dan orang Melayu di Kampung Melayu.

Di masa VOC, orang-orang dari etnis-etnis tersebut ditempatkan mengelilingi benteng VOC di sekitar Jakarta. Orang-orang Ambon ditempatkan di timur benteng. Orang-orang Bali di arah barat dan orang-orang Melayu di selatan. Kampung-kampung itu seolah membentengi VOC dari serangan pribumi di pulau Jawa.

Sisa-sisa tempat pemukiman mereka bisa dikenali melalui nama-nama kampung tua di Jakarta. Termasuk kampung melayu di jatinegara, Jakarta timur. Kampung melayu dulunya masuk di wilayah yang dikenal dengan nama Meester cornelis.

Sejarah kampung melayu terkait dengan Wan Abdul Bagus. Wan adalah gelar sebagai orang terkemuka melayu. Wan Abdul Bagus putra Ence Bagus, lahir di Patani, Thailand Selatan yang berbatasan dengan Malaysia di Semenanjung Melayu. Dikenal sebagai sosok yang cerdas, dia dijadikan pemimpin masyarakat Melayu di Betawi dengan pangkat kapitan.

“Kapten Wan Abdul Bagus menjadi penerjemah resmi dan merevisi terjemahan Katekismus Heidelberg,” tulis Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (1997).

Tugas Kapitan kepercayaan VOC tak hanya memimpin sebuah perkampungan dan urusan administrasinya dengan VOC. Seorang kapitan dan orang-orang seetnisnya juga harus siap menjadi pasukan suku dan berperang untuk kepentingan VOC. Jika ada satu kampung suku yang membangkang pada VOC, kampung suku yang lain pun dikerahkan.

Menurut tulisan W.L. Ritter di koran Bintang Betawi 8 Mei 1901 “Kapitan Jongker atawa Asalnja Kampong Pajongkoran,” Kapitan Wan Abdul Bagus dan orang-orang Melayu juga pernah dikerahkan menghajar orang-orang Ambon pimpinan Kapitan Jonker di Marunda, Cilincing. Atas perintah petinggi VOC tentunya.

Padahal, di masa-masa sebelumnya, sebelum ada aturan yang mengkotakkan suku-suku non-betawi dalam kampung-kampung etnis, Kapitan Jonker dan orang Ambon bersama orang Melayu di bawah komandonya berperang demi VOC di Sumatra dan Sulawesi. Dalam sebuah pertempuran, seorang pemimpin pasukan Melayu, Kapitan Wan Abdul Bagus terluka. Belakangan, Kapitan Jonker terbunuh.

Mengenai kampung tempat orang-orang Melayu tinggal, Menurut Heuken, Kapitan Wan Abdul Bagus-lah yang “mendirikan Kampung Melayu di Meester (Cornelis).”

Menurut Alwi Shahab dalam Betawi Queen of the East (2004), di daerah yang sekarang bernama Kampung Melayu, dulu tinggal pasukan melayu pimpinan Kapitan Wan Abdul Bagus. Agak ke selatan lagi, ada bawahan Wan Abdul Bagus bernama Ence Awang yang tinggal bersama pasukannya. Ence Awang dan orang-orang Melayu itulah yang menjadi cikal-bakal daerah bernama Cawang.

LITOGRAFI

VIEW OF BATAVIA ~ J.W. HEYDT 1744

Litograf Batavia Acuan Awal Jakarta

J.W. Heydt tekun melukis Batavia pada era 1737-1740. Karya litografnya dapat menjadi acuan bagaimana awal kota Jakarta.

Karena kebutuhan lokasi untuk perbaikan kapal-kapalnya, Kongsi Dagang Belanda (VOC) menyewa sebuah pulau dari Pangeran Jayakarta. Masyarakat sekitar menyebutnya Pulau Kapal. Orang Belanda menamainya Onrust yang berarti “Tak Pernah Beristirahat”.

Pada 1740, JW Heydt yang jadi juru gambar untuk Gubernur Jenderal Valkeneir melukis situasi atau denah Pulau Onrust yang dikelilingi sebuah benteng yang cukup besar. Lebih dari dua abad kemudian, pada 1982, Adolf J. Heuken SJ, seorang paderi Katolik kelahiran Jerman, menampilkan karya Heydt dalam bukunya Historical Sites of Jakarta. Itulah kenapa karya-karya Heydt menjadi cukup penting, kata Hauw Ming, seorang kolektor yang menyimpan karya-karya litogaf JW Heydt .

Johann Wolgang (JW) Heydt adalah seorang opsir, arsitek, dan pelukis kelahiran Silesia, Jerman Timur. Pada 1733 dia mendaftarkan diri bekerja untuk VOC dan menghabiskan beberapa waktu di Ceylon (Sri Lanka). Sekira tiga tahun kemudian dia menuju Batavia dan di sana bekerja sebagai juru gambar untuk Gubernur Jenderal Valkeneir.

Heydt bermukim di Batavia dari sekira 1737 hingga 1740. Selama menetap, Heydt bertugas melukiskan pembangunan di setiap sudut kota Batavia, terutama bangunan-bangunannya.

Karyanya kemudian digunakan sebagai buku laporan kepada pemerintah Belanda di pusat. Mereka kan membangun di sebuah daerah yang jauh dan menghabiskan investai yang sangat besar. Dari karya Heydt-lah diketahui perkembangan pembangunan. Juga dari situ timbul pertimbangan apakah pembangunan itu menguntungkan untuk dilanjutkan, atau harus dihentikan.

Pada 1741, Heydt kembali ke Eropa dan melanjutkan pekerjaannya sebagai arsitek di Nurnberg. Tiga tahun kemudian, dia menerbitkan laporan perjalanannya dengan judul Allerneuster Geographics- Und Topographischer Schau-Platz von Africa und Ost Indien. Buku ini menjadi buku ilustrasi pertama tentang Batavia berdasarkan pandangan mata langsung sang pembuatnya. F de Haan, penulis buku Oud Batavia, memuji ketepatan dan keandalan Heydt dalam menggambarkan kota Batavia tempo dulu.

Dari lukisannya kita dapat mempelajari sejarah awal Batavia, apa yang terjadi dan bagaimana dulu kota itu dibangun dengan perencanaan yang sangat terstruktur. Heydt bukan hanya menggambarkan suasana atau kondisi yang telah terbangun, tapi juga yang masih berupa ide dasar.

Selain menggambar bangunan dan suasana kota Batavia, Heydt kerap memasukkan figur dalam gambarnya. Dengan gambar itu kita dapat mengetahui cara berpakaian orang-orang saat itu; Orang Tionghoa dan bumiputera dengan pakaian tradisional masing-masing, orang Belanda dengan gaya Eropanya.

Heydt juga memenuhi tugas untuk membuat peta kota Batavia yang dilakukannya tahun 1739. Karya-karya Heydt selalu menjadi acuan para sejarawan untuk mengetahui Batavia tempo dulu.

Dalam Ensiklopedi Jakarta tercatat, sejarah litografi dimulai saat VOC mulai membutuhkan pelukis untuk keperluan eksplorasi dan dokumentasi.

SEA CHART OF JAVA ISLAND ~ YEAR C.1753

 

Litografaf mempunyai nilai penting. Dari gambarnya kita dapat melihat kondisi suatu daerah atau bangunan tempo dulu untuk dijadikan acuan saat ini.

 

REGEERINGSALMANAK

 

Regeringsalmanak-van-NL-Indie-1882

Regeeringsalmanak terbit 2 jilid buku setiap tahunnya berisi catatan segala sesuatu tentang isi negeri jajahan. Nama pegawai belanda sampai nama pemilik tanah. Termasuk nama wedana sampai regent (bupati) pada masa itu. Regeeringsalmanak berakhir 1942 ketika Jepang datang. Yang dimulai 1815 bahkan juga ada sebelumnya dalam catatan-catatan lain di era VOC

Jilid pertama adalah berbagai peraturan dan undang-undang. Jilid kedua mengenai personalia. Walaupun namanya adalah  “almanak pemerintah”, namun tidak hanya mereka yang bekerja pada atau berhubungan langsung dengan pemerintah (misalnya residen, asisten resimen, bupati, wedana, atau opsir-opsir tionghoa, etc) yang namanya dimuat dalam Regeeringsalmanak jilid 2. Namun disitu dimuat juga berbagai organisasi sosial maupun keagamaan dengan nama pengurusnya.

Buku ini muncul setiap tahun dan bisa dijumpai di perpustakaan Leiden, karena mereka punya lengkap edisi 1888-1940 (53 edisi lengkap). Informasinya amat banyak dan  berguna. Twang Peck- yang yang disertasi nya sudah terbit dalam bahasa Indonesia.

Menariknya, intelejen Jepang sebelum menyerbu Indonesia, mereka juga mempelajari etnis Tionghoa dan salah satu acuan yang mereka gunakan untuk mengetahui kekuatan dan peran ekonomi Tionghoa adalah buku referensi ini.

Regeringsalmanak-van-NL-Indie – 1815-1942

Arsip-arsip dan buku-buku Belanda merupakan sumber sejarah Nusantara yang penting, karena selama keberadaannya di Kepulauan Nusantara, orang-orang Belanda rajin sekali melakukan pencatatan, terutama yang berkaitan dengan pemerintahan dan perdagangan. Selain itu, terdapat pula catatan yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat setempat. Bagi mereka pengetahuan mengenai budaya dan adat istiadat setempat sangatlah diperlukan, karena mendukung upaya mereka dalam memerintah daerah jajahan.

Jadi sudah tahu kan sekarang, mana yang otentik mana yang sekedar cerita rakyat, juga bukan kata si nganu lagi yang kita jadikan rujukan. Kini anda sudah tahu.

About hatimati

Alfred 2591

View all posts by hatimati →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *