UCAPAN SELAMAT NATAL

Penyampaian ucapan selamat natal kali ini bukan untuk pembaca hehe melainkan untuk Ibu yurike sanger.

Surat Romantis Selamat Natal Bung Karno.

Bapak Proklamator ini rupanya juga tak lupa untuk mengucapkan selamat natal kepada istri ketujuhnya.

Memperingati hari Natal, setiap orang biasanya saling memberi doa dan mengucapkan selamat natal kepada saudara, keluarga, teman, atau kenalan lainnya. Tak terkecuali presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Bapak Proklamator ini rupanya juga tak lupa untuk mengucapkan selamat natal kepada istri ketujuhnya, yurike sanger.
Soekarno kedapatan pernah mengirimkan sepucuk surat yang romantis kepada sang istri pada tanggal 25 Desember tahun 1964.

“Bersama ini aku kirim satu tandamata dan uang sedikit untuk natalan.

Selamat hari Natal, moga-moga Tuhan selalu melimpahimu dengan rachmatnya dan berkatnya.

Sebenarnya aku sudah kangen sekali, tetapi kepadatan kerdja belum memberi kesempatan mendjumpaimu.

I hope next monday i can meet you.” tulis Soekarno dalam suratnya yang tertanggal 25 Desember 1964.

Walau menikah secara Islam, tampak yurike sanger masih beragama kristen. Bung karno masih mengucapkan selamat natal.

Yurike sanger sendiri adalah istri ketujuh presiden pertama Indonesia. Soekarno pertama kali bertemu dengan yurike sanger pada tahun 1963. Kala itu yurike masih yang masih berstatus pelajar menjadi salah satu anggota barisan bhinneka tunggal Ika pada acara kenegaraan.

Pada 6 Agustus 1964, Soekarno dan yurike sanger menikah secara Islam di rumah yurike. Namun mahligai rumah tangga keduanya harus kandas saat soekarno menceraikan yurike, karena kondisi soekarno yang kurang stabil. Hemm, istri ke tujuhnya. Au ah terang hehee … kepo aja ente.

Berawal dari kedatangan seorang bintang film bernama Dahlia ke sekolahnya pada awal 1963. Rupanya, sang bintang film itu sudah lama mengamati dan mengincar Yurike untuk dijadikan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kelompok remaja berjumlah 50 pasang yang tampil mengenakan pakaian adat Indonesia pada acara-acara kepresidenan.

Kejutan berikutnya berlangsung ketika pertama kali tampil itu. Yurike mengaku sangat canggung karena ini merupakan pengalaman baru. Keringat dingin terasa mengalir di tengkuknya pada saat Bung Karno justru berhenti tepat di hadapannya ketika melewati Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpa diduga, sang presiden malah menyapa dan menyempatkan diri berdialog singkat dengannya.

Barangkali karena tahu aku pendatang baru dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika, (Bung Karno) lalu bertanya, ‘Siapa namamu?’.” Yurike menjawab semua pertanyaan singkat presiden dengan perasaan campur aduk: bingung, malu, dan bangga. Apalagi, Bung Karno sempat terkecoh oleh posturnya yang bongsor, sehingga menyangka Yurike yang masih duduk di bangku SMP itu seorang mahasiswi.

Dalam perkenalan singkat itu juga, sebelum berlalu, Bung Karno mengatakan kepadanya sebaiknya tidak memakai nama dengan akhiran “ke” atau “ce”. “Pakai Yuri saja. Nama dengan embel-embel ‘ke’ atau ‘ce’ itu kebarat-baratan, tidak sesuai dengan kepribadian nasional kita.” Yurike pun hanya mengangguk mengiyakan.

Yurike tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya sejak tatapan pertama dengan Bung Karno itu. “Matanya yang jernih dan terang itu sepertinya hinggap ke pusat mataku dan sampai kapan pun tak bisa kulukiskan dengan jelas. Bicaranya mantap, wajahnya tampan, dan makin tampak gagah dengan jas cokelat tua yang dipenuhi atribut resmi di kedua pundak dan dada kirinya. Secara kebetulan pula, warna cokelat tua memang warna favoritku,” tulis dia.

Seiring dengan keterlibatannya yang makin intens dalam kegiatan Barisan Bhinneka Tunggal Ika, makin sering pula ia bertemu dengan Bung Karno. Yurike mengungkapkan beragam perhatian khusus yang diberikan Bung Besar itu kepada dirinya. Bermula dari sekadar menyuruh duduk di dekatnya ketika ada acara resmi di istana, juga dengan mengambilkan kue tradisional dari meja.

Untuk itu, Yurike menulis kenangannya. “Perhatian Presiden Soekarno kepadaku memang terasa agak khusus. Di antara puluhan gadis yang tergabung dalam Barisan Bhinneka Tunggal Ika, menurut pengamatanku, jarang sekali yang menerima perlakuan demikian. Aku tidak pernah berpikir bahwa hal itu akan berlanjut menjadi hubungan yang lebih serius.” Perjalanan nasib pula yang membuat Yurike harus melupakan impiannya menjadi pramugari.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *